Aku tersesat dalam kelalaian, sedang kematian bergerak kearahku,
semakin lama semakin mendekat.
Jika aku tidak mati hari ini, aku pasti
mati esok.
Aku manjakan tubuhku dengan pakaian-pakaian halus dan mewah, sedikit berpikir bahwa itu akan membusuk dan hancur dalam kubur.
Aku bayangkan tubuhku remuk menjadi debu dalam lubang kubur, Di bawah gundukan tanah.
Keindahan tubuhku akan berangsur-angsur hilang, sedikit demi
sedikit berkurang hingga tinggallah kerangka, tanpa kulit dan daging.
Aku melihat detik-detik kehidupan lambat laun habis, namun
keinginan-keinginanku masih belum terpenuhi. Suatu perjalanan panjang
terbentang di hadapanku, sedangkan aku tiada bekal untuk jalan itu.
Aku menentang Tuhanku, melanggar perintah-perintah-Nya terang-terangan,
sementara Ia mengawasiku setiap saat. Aduh! Aku memperturutkan hatiku
dalam perbuatan-perbuatan yang memalukan! Ah! Apapun yang telah terjadi
tak dapat dihapuskan dan waktu bila telah berlalu tidak dapat ditarik
kembali. Ah! Aku berdosa secara rahasia, tidak pernah orang lain
mengetahui dosa-dosaku yang mengerikan.
Tetapi esok, rahasia
dosa-dosaku ditampakan dan dipertunjukan kepada Tuhanku. Ah! Aku
berdosa terhadap-Nya, walaupun hati merasa takut, namun aku sangat
mempercayai ampunan-Nya yang tak terbatas, aku berdosa dan tak tahu
malu, dengan berani bergantung kepada ampunan-Nya yang tak terbatas.
Siapa lagi selain Dia, yang akan mengampuni dosa-dosaku. Sesungguhnya
Ia patut bagi segala pujian! Seandainya tidak ada adzab setelah
kematian.
Tiada janji akan surga, tiada ancaman akan neraka.
Kematian dan kebusukan cukup sebagai peringatan, agar kita menjauhi sia-sia.
Namun akal kita bebal. Kita tidak mengambil peringatan apa pun.
Sekarang tiada harapan lagi bagi kita, kecuali Yang Maha Pengampun
mengampuni dosa-dosa kita, karena bila seorang hamba berbuat salah,
hanyalah Tuhannya, tanpa seorangpun yang mengampuninya tak diragukan
lagi aku adalah yang terburuk dari semua hamba-Nya.
Aku yang mengkhianati perjanjianku dengan Tuhanku yang dibuat di keabadian. Dan,
adalah hamba yang berucap yang janji-janjinya tak berarti. Tuhanku, akan
bagaimanakah nasibku, ketika api membakar tubuhku? Api yang melelehkan
batu yang paling keras! Ah! Aku sendiri ketika dibangkitkan dari kubur
(tanpa seorangpun yang menolongku pada hari itu).
Wahai Engkau, Yang Maha Esa yang tiada sekutu terhadap keagungan-Mu. Belas kasihanillah
kesendirianku, karna ditinggalkan oleh segalanya.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar